Showing posts with label Info. Show all posts
Showing posts with label Info. Show all posts

Wednesday, February 13, 2019

Curhat dan Cerita-Cerita

Postingan kali ini berbeda dari biasanya. Saya nggak akan menulis tutorial, menyusun inspo dari blog-blog DIY lain, atau meneruskan DIY Wedding Series dulu. Saya cuma mau curhat dan cerita-cerita terutama seputar menjalani blog ini. Jadi sebelumnya maafkan kalau gaya bahasanya sedikit terpengaruh blog menulis saya yang kedengarannya agak berbeda dengan tulisan di sini, hehe. Tapi saya tetap satu orang yang sama, baik itu di Kembang Gula maupun tempat lain.

Bisa meneruskan dan menghidupkan tempat ini dengan postingan-postingan adalah salah satu anugrah buat saya. Sudah berapa banyak project yang dulu saya visualisasikan akan terlaksana, tapi nyatanya terbengkalai juga? Meski memang tidak serutin yang saya mau pada awalnya, tapi saya senang bisa berbagi hal yang membahagiakan saya, bahkan syukur-syukur berguna buat yang membacanya. Saya sangat terinspirasi blog-blog DIY dari tahun 2012-an (ketika DIY fashion sedang naik-naiknya) dalam menyusun, mendesain, dan merencanakan blog ini, karena saya pun ingin ada blog DIY modern yang berbahasa Indonesia dan menggunakan alat-bahan yang tersedia di sini. Kebetulan saat itu saya baru temukan sedikit, jadi saya buat saja sendiri.

(alasan lainnya mengapa saya ber-DIY juga bisa dilihat di tautan pada side bar 'Maklumat Sebentar'--yang gaya bahasanya, lagi-lagi, berbeda dengan sekarang haha)

Seiring waktu, semakin saya membaca dan mencoba hal baru lain, postingan-postingan di sini juga mengalami perubahan. Awalnya saya cuma posting foto-foto DIY saya yang kebayakan perhiasan seperti gelang dan kalung, sampai room decor dan sepatu (yang anehnya, dicuri. Apa itu artinya DIY saya terlihat seperti sepatu beli di toko? :P). Lalu pola postingan saya menjadi inspo - round up - DIY tutorial - info - round up lagi - DIY tutorial lagi. Gaya bahasanya pun masih 'formal' dan palsu (?) terlihat sekali saya sedang melakukan T dari ATM--Amati, Tiru, Modifikasi.

Setelah itu... saya berhenti cukup lama. Sampai akhirnya saya posting soal wedding karena pernikahan saya sebagian besarnya dipersiapkan sendiri (baca: dengan keluarga dan teman-teman) dan ada beberapa hal juga yang di-DIY, jadi saya rasa saya ingin membaginya di sini. Saya masih sedikit terpengaruh pola postingan yang lalu dengan mencantumkan 'janji' di bagian penutup, misalnya akan membuat bagian duanya, atau memberitahu DIY selanjutnya dengan cukup spesifik tapi sampai sekarang belum-belum ada juga, atau sok membocorkan series selanjutnya. Intinya, saya berusaha untuk membuat blog ini tampak teratur, tertata, sesuai konsep dan tema.

Kenyataannya, saya bukan orang yang segitu teraturnya. I'm an easily-bored and random type of person. Itulah mengapa saya senang ber-DIY, karena saya mudah bosan dan saya butuh pelarian kreatif yang membuat saya semangat lagi. Terutama sekarang ketika saya mulai menemukan kesenangan baru seperti menyusun dan mengirim snail mail seperti di postingan terakhir, yang menggeser fokus DIY saya dari fashion menjadi stationery. Saya juga berkenalan dengan makeup yang artinya bisa jadi sewaktu-waktu saya akan posting sesuatu tentang itu. Dan itu tidak direncanakan dulu. Memang, ide DIY selanjutnya suka saya catat (saya punya satu notebook untuk itu dan tiap postingan itu selesai, saya beri centang), tapi ketika ada ide lain yang tidak se-topik dengan postingan sebelumnya, saya tetap menuliskannya.

Jadi sepertinya mulai postingan terakhir--alias DIY di bawah ini--saya akan posting apa pun sesuai yang sedang saya inginkan. Ketika ada ide dan bahan untuk menyusun DIY Wedding Series lagi, saya posting. Ketika saya baru saja mengirimkan gift mail baru dan ada unsur DIY-nya yang bisa dibikin tutorial, I post it. Ketika, siapa tahu, saya menemukan cara cepat dalam hal makeup, ya saya akan tulis tentang itu meski sebelumnya berturut-turut sudah tentang jewelry. Saya juga tidak akan membatasi round up hanya untuk tutorial di luar blog ini, tapi bisa saja saya akan up kembali tutorial-tutorial yang lama di segmen itu. So many possibilities.

Begitulah. Saya akan lebih bebas, lebih loose, dan lebih informal di blog ini. Mungkin ini terdengar sama saja dengan 'janji' saya di bagian penutup tutorial ya, haha. Tapi nggak, ini lebih ke pengakuan dan ya, do expect randomness and not-so messiness in this blog. Saya tetap merencanakan postingan saya dan memasukkan tiap postingan ke dalam kategori-kategori agar tetap rapi. Saya juga tetap meneruskan series atau tema yang sudah ada. Tapi kamu akan lebih menemukan 'saya' di sana, yang menyukai DIY dan berusaha mendokumentasikannya lewat platform ini.

Terima kasih sudah membaca dan berkunjung ke sini, ya. Saya nggak akan ada habisnya berkata begitu, karena saya pun yakin tiap tulisan pasti ada pembacanya. Dan saya sangat berterima kasih pada kamu yang berjodoh dengan blog ini. Semoga saya bisa terus konsisten berkarya di sini walau waktu mempostingnya longkap-longkap, hehe :)

Thursday, December 20, 2018

Inspo: Red Lips Makeup Look


Oh, wow, sekarang sudah Desember! Bagaimana 2018 kamu? Mudah-mudahan selalu ada yang disyukuri, ya :) Dan tetap bisa menyempatkan waktu untuk bersantai dan berkarya, hehe.

Mengambil jeda dari rangkaian postingan wedding, saya yang dua tahun belakangan ini sedang senang makeup akhirnya memutuskan untuk menulis tentang inspirasi makeup look. Meski jelas saya jauh dari kata beauty guru, tapi berhubung saya lihat rasanya sedikit sekali postingan bertema inspo di sini, akhirnya saya membuat empat look menggunakan lipstik merah dalam berbagai shade (dan produk lokal!). Jadi ini bukan tutorial, melainkan ide yang diharapkan bisa membantu jika kamu sedang mencari padanan untuk makeup look menggunakan lipstik merah yang wearable, mudah untuk pemula, dan beda dari klasik wing liner + blue-based red lips combo.

Selain itu, kayaknya postingan yang bersinggungan dengan makeup/skincare baru satu, ya? Yaitu DIY lip balm yang juga salah satu tugas kuliah dulu. Lumayan kan ya, nambah-nambah postingan haha. Oh ya, sepertinya juga DIY wedding series masih berlanjut karena masih ada yang belum saya masukkan di sini, pun saya ingin memisahkan antara DIY tutorial yang benar-benar untuk wedding atau sekadar stationary/jewelry/decoration biasa, atau bisa masuk keduanya (tapi sebetulnya apa pun yang dirasa pantas bisa masuk DIY wedding, sih. Tuh kan, bingung -_-). Pokoknya untuk sekarang kita masuk saja ke red lips look dulu, deh. Langsung saja...


Look ini terinspirasi dari satu iklan beauty class bertema 'Bold Red Lips Korena Makeup' yang saya lihat di Instagram. Selama ini saya selalu melihat tutorial Korean makeup yang dibuat beauty vlogger Indonesia mengambil dan menerjemahkan K-beauty look sebagai 1) blush-on demam 2) ombre lips 3) dewy skin dan 4) aegyo sal. Entah saya yang kurang perbendaharaan video Korean makeup tutorial atau bagaimana, tapi setidaknya itu yang saya rasakan. Dan, saya rasa saya kurang cocok menjadi imut-imut seperti itu haha. Jadi sekalipun saya adaptasi look-nya, saya cuma menyesuaikan di glowy skin look dan ombre lips yang tidak terlalu pucat.

Jadi... ketika saya melihat iklan itu, saya langsung berpikir ini konsep yang segar banget! Alis yang cenderung lurus dipadukan glass skin dan shimmery eyeshadow, lalu bam, red lips! Saya membayangkan look ini cocok dipakai ke pesta malam hari untuk yang biasa ber-makeup natural. Atau juga di siang hari, karena tidak terlalu bold. Sementara untuk mendapatkan dewy/glass skin-nya, kamu bisa lihat tutorialnya di sini. Warna merah yang saya sarankan adalah strawberry/tomato/cherry red, karena selain membuat tampilan jadi lebih pop-up dan masih wearable, warna-warna itu cocok dipadukan dengan peach-coral eyes, the go-to Korean eyeshadow colors.

Lipstik yang saya pakai: Mizzu Valipcious Matte Lip Cream dalam shade 'On Fire' ditambah sedikit Emina Sugar Rush Lipstick dalam shade 'Maroon Macaron' di bagian tengah bibir

I actually liked how it turned out! Rasanya ini satu dari sedikit Korean Makeup yang nyaman dipakai di wajah saya yang tidak imut ini, haha.


Oke, saya paham. Tidak semua orang berani atau suka dengan lipstik merah gelap begini, tapi kalau kamu salah satunya seperti saya, rock it, girl! Saya sukaaa sekali warna burgundy-wine dari Make Over Intense Matte Lip Cream ini, dan sebetulnya kalau untuk daily saya biasa mengaplikasikannya dengan cara ombre yang sedikit dibaur alias feathered. Dan itu bikin tampilan warna wine-nya jadi lebih terlihat stained. And it's sooo beautiful *_*

Nah, berhubung formula lip cream ini buildable, untuk menghindari warna yang terlalu pekat sehingga tampak ungu kehitaman, saya memakainya dalam lapisan tipis, jadi sebelum diulas ke bibir saya sisihkan dulu kelebihan lip cream-nya di mulut botol. Dan berhubung ini lipstik warna gelap, pakainya juga hati-hati agar tidak mbleber. Syukurlah Make Over ini tidak cepat kering, sehingga saya bisa mengatur kerapiannya dengan cara merapatkan kedua bibir, lalu meratakan warnanya. Saya padukan dengan eye makeup netral sedikit smoky (warna coklat matte di crease untuk transisi dan lower lashline, warna light shimmer di lid, dan warna highlight di inner corner). Oh, jangan lupa sapukan sedikiiit blush warna burgundy-mauve yang intens (saya pakai LA Girl Just Blush dalam shade 'Just Fearless') agar wajah tidak terlihat wash-out.

Lipstik yang saya pakai: Make Over Intense Matte Lip Cream dalam shade 'Vogue'

Look ini bisa dipakai di acara malam, juga bagus dipadukan baik dengan complexion base yang matte maupun dewy, karena lipstiknya memiliki hasil akhir matte. Pretty versatile for a night-out ;)
 
 
Lagi, tidak semua orang suka dengan lipstik creamy atau tampilan glossy seperti ini. Namun saya yakin, seiring tren lip gloss kembali naik, akan banyak yang akhirnya mencari kenyamanan creamy lipstick atau lip gloss daripada ketahanbantingan matte lip cream. Jadi, saya masukkan opsi ini, selain karena saya juga suka dengan look bibir yang gelap tapi glossy. Kesannya modern sekaligus throwback tapi dalam arti yang baik. Warna dark cherry ini juga salah satu warna yang oke banget dalam bentuk glossy! Berhubung saya tidak punya lip gloss dengan warna ini, saya pakai creamy lipstick yang diaplikasikan berlapis-lapis hehe.

Simpel saja--agar warna lipstik yang sudah cantik ini menjadi pusat utama dari keseluruhan look, untuk eyeshadow-nya saya hanya pakai gabungan dari warna cool-toned mauve dengan blush warna pink-peach brown di kelopak mata, seolah hanya sebagai sapuan satu warna. Blush yang sama juga ditaruh di pipi sekalian membaurkan bronzer agar ada keseragaman tone. Saya pribadi sih, puas dengan hasil akhirnya. Warna lipstik merah ini juga tidak begitu gelap seperti di look 2, jadi kalau berani pakai di siang hari juga oke, kok :D

Lipstik yang saya pakai: Emina Sugar Rush Lipstick dalam shade 'Cherry Bomb'

Buat yang punya mata lentik, kayaknya look ini bakal kelihatan cantik banget di kamu! (saya sih, masih harus mengandalkan maskara dan penjepit bulu mata ^^")


Kini kita kembali ke merah yang biasa atau middleground, jadi tidak nge-jreng juga tidak pekat seperti dua lipstik sebelumnya. Lebih tepatnya ini merah terakota yang sering menjadi favorit dan cocok digunakan untuk semua warna kulit. Pokoknya, merah aman.

Karena sifatnya yang aman inilah, jika dipakai ke acara khusus, jadi sangat pas digabungkan dengan eye makeup yang cukup dramatis tapi tetap simpel seperti pink shimmery shadow ini. Saya pakai satu shade saja, yaitu 'Pitter Patter' dari Colourpop 'All I See Is Magic' palette. Saya sengaja membentuknya semacam cat eye kemudian membaurkan garis tepinya agar tidak tampak kasar. Ternyata kombinasi pink eyeshadow + red lips ini lumayan populer dan banyak contohnya, loh! Dan bisa dipakai untuk hari dandan khusus, misalnya ke kondangan, tidak hanya terbatas di atas red carpet atau catwalk. Kuncinya agar bisa wearable, selain pemilihan warna pink dan merahnya, adalah tidak membubuhkan blush. Cukup contouring yang lumayan tegas.

Lipstik yang saya pakai: Wardah Intense Matte Lipstick dalam shade 'Miss Terracota'

Karena mata saya monolid dan kurang tegas jika hanya diberi eyeshadow, saya juga aplikasikan brown eyeliner di upper lashline dan setengah lower lashline, kemudian dibaurkan.

Produk lain yang dipakai di empat look ini:
- Mustika Ratu Beauty Queen Foundation (Matte Finish) 'Nude Beige'
- Mizzu Brow Wow 'Dark Shade'
- Emina Top Secret Brow Powder
- Wet 'n Wild Hello Halo Highlighter 'Goddess Glow'
- Wet 'n Wild Baked Blush 'Don't Flutter Yourself' (Limited edition)
- Catrice Pret-a-Volume Smokey Waterproof Mascara

Semoga postingan ini bermanfaat sesuai judulnya, DIY Inspo. Siapa tahu saja saat ini kamu sedang mencari inspirasi makeup untuk jadi bridesmaid, atau ke pesta dengan tema tertentu, atau bahkan untuk wisuda, dan skintone kita tidak jauh berbeda (meski saya rasa semua skintone bisa mencoba look-look ini), kamu bisa coba salah satu dari empat look. Harap maklum jika postingan pertama yang membahas full makeup ini saya masih banyak kurangnya. Oh ya, kira-kira yang mana yang jadi favorit kamu? Coba kasih tahu di kolom komentar, ya ^^

Tidak menutup kemungkinan bahwa ini bukanlah postingan terakhir tentang makeup. Ke depannya, saya mau coba isi blog ini dengan tema makeup yang DIY-ish, jadi doakan saja agar semua ide-ide postingan saya bisa terwujudkan segera :D Selamat mencoba look-nya, semoga berhasil...? Hehe.

Saturday, June 30, 2018

My DIY Wedding Part 2: Planning + Evaluation


Melihat tulisan-tulisan sebelumnya di blog ini, saya jadi malu. Pembukanya sama semua, haha. Kalau bukan 'hai' atau 'halo', ya kalimat dengan tanda seru di belakangnya. Namun itulah yang menjadikan kita semua manusia--berkembang dan selalu belajar.

Seperti di Part 1, karena tujuan saya berbagi, jadi semua informasi di postingan ini tidak berlaku sebagai patokan. Ada yang DIY wedding-nya 100%? Ada! Ada yang DIY wedding-nya cuma direncanakan dalam waktu tiga bulan? Ada juga. Semua tergantung kemampuan masing-masing calon pengantin dan keluarga. Untuk pernikahan saya dan suami sendiri, kami mempersiapkannya dari satu tahun sebelumnya karena suami harus pergi dinas ke Banyuwangi sementara saya masih di Bandung. Keuangan dan segala macamnya juga tidak strict, karena alhamdulillah selama persiapan ada saja bantuan yang datang, entah itu dari keluarga atau teman. Jadi jujur saja kalau ditanya berapa budget-nya, kami bingung, hahaha. Yang ini jangan ditiru, ya. Saya pernah lihat beberapa utas di Twitter yang membicarakan budget wedding dengan lebih rinci bahkan sampai menyertakan spreadsheet segala. Kalau di sini, kita fokus ke DIY-nya saja, ya :D

(Dibaca-baca lagi... dengan pembuka kayak tadi... kenapa jadi kerasa formal banget? Haha)

Sebelum masuk ke rencana--ingatlah bahwa pernikahan itu magical. Jadi, jangan heran ketika di tengah persiapan ada saja kejutan-kejutan menarik yang membuat pernikahan jadi tak terlupakan. Don't stress out too much, fokus ke yang penting, dan saat hari itu datang, nikmatilah. Yang melenceng dari perkiraan tetap saja ada, tapi kalau sudah bersatu dengan orang tercinta, apa pun akan kelihatan indah, kan? Haha giung banget ini!

RENCANA

Karena dari awal sudah memutuskan untuk men-DIY beberapa hal, kami lalu membagi kategori: mana yang bisa di-DIY, mana yang sebaiknya menggunakan vendor. Buat kami, apa saja yang di-DIY bisa dilihat di sini. Perencanaan ini dibuat sejalan dengan menyusun daftar acara dan 'panitia' atau person in charge yang nantinya akan bertugas.

Biasanya pernikahan itu membutuhkan apa saja, sih? Lagi-lagi, ini tergantung kebutuhan. Keluarga kami sepakat untuk menggelarnya tanpa adat, jadi acaranya hanya akan ada akad dan resepsi. Nah, dari sini dipecah lagi, apa saja yang dibutuhkan selama akad dan resepsi. Namun memang ada beberapa yang penting dan umum, contohnya:

- Venue/Tempat diselenggarakannya acara
- Katering
- Dokumentasi
- Dekorasi

Buat kami, empat hal itu yang dipikirkan pertama kali. Dan yang tidak/kurang bisa di-DIY.

(I mean, how can you build your own venue?)

Tapi kan, dekorasi bisa bikin sendiri juga? Tentu, makanya kami urutkan lagi mulai dari yang tidak bisa dikompromi hingga yang bisa ditambah-tambah sendiri. Urutannya jadi: Katering-Gedung-Dokumentasi-Dekorasi. Kita bahas yang tiga pertama dulu ya, mengapa harus non-DIY.

KATERING
Pernah datang ke kondangan, kan? Siapa yang sering kamu lihat berlalu-lalang selain tamu? Petugas katering. Yang satu ini memang sebaiknya menggunakan jasa, karena ada 'seni'nya tersendiri dalam menjamu sebanyak itu. Resepsi pernikahan, selain untuk mengumumkan, juga sering dilihat sebagai bentuk rasa syukur karena kedua keluarga telah dipersatukan, jadi pastikan kateringnya memuaskan dan mencukupi porsi tamu yang datang.

GEDUNG
Tadinya, kami ingin pernikahan digelar di rumah saja. Selain murah, dekornya juga nggak akan macam-macam. Namun satu minusnya pernikahan di rumah adalah tidak ada jam selesai, yang artinya tamu bisa saja datang sampai malam, dan kami jadi harus menjamu. Jadi kami mencari gedung yang terjangkau dan punya ruang parkir yang cukup. Dengan adanya halaman parkir, tamu juga lebih nyaman untuk datang dan cepat sampai di gedungnya.

Saran saya, kalaupun berencana menggelarnya di halaman rumah, pastikan saja ada tempat parkirnya. Salah satu yang akhirnya membatalkan rencana kami menikah di rumah adalah itu, karena jalan masuk ke rumah cenderung sempit dan tidak ada cukup ruang untuk parkir.

DOKUMENTASI
Awalnya saya tak menyangka ini jadi faktor 'utama' yang tidak bisa didebatkan lagi selain harus menyewa jasa profesional. Namun setelah riset di internet, saya justru menemukan hire a good photographer jadi yang paling disarankan pengantin dan artikel wedding. Seperti katering, fotografi pernikahan juga punya seninya tersendiri, seperti bagaimana cara menangkap momen yang cepat berlalu seperti akad (serius, kamu nggak akan kerasa tahu-tahu sudah jadi istri orang saja!), sungkeman, dan post-wedding dengan latar ciamik. Ini terbukti di pernikahan kami. To be brutally honest, kami hanya menyewa gedung serbaguna milik RW, dengan dekorasi pelaminan yang paling sederhana, pemandangan sekeliling yang kebanyakan rumah warga, dan tentunya ruang yang terbatas. Kalau bukan profesional yang memotret, mungkin saja di belakang kami ada anak kecil lari-lari atau orang lewat sekelebat, atau dinding mengelupas (haha), atau kekurangan lainnya. Dengan menyewa jasa fotografi, dari tempat sesederhana itu, bisa dibilang kami puas dengan hasilnya yang menonjolkan detail (terutama DIY-nya) dan fotogenik. Briefing dengan fotografernya juga penting ya, agar kita bisa menyampaikan maksud kita, ingin hasil foto yang seperti apa.

Foto ini diambil persis di sebelah pelaminan, dan sebetulnya di sekitar kami sedang ramai. Tapi nggak kelihatan, ya? :D
Detail seperti sepatu yang saya pakai juga diabadikan oleh fotografernya. Yang ini diambil di taman samping rumah.

Namun, kami tidak menyewa videografer. Menurut beberapa kerabat yang sudah menikah, mereka semua bilang video tidak akan dipakai atau ditonton lagi, haha. Harganya pun lumayan. Foto tetap ada, tapi jika kamu tipe yang suka menonton video dan ada budget-nya, boleh saja berinvestasi untuk merekam momen sekali seumur hidup ini.

Dari tiga elemen penting ini, sesungguhnya dokumentasi jadi yang bisa paling ditekan budget-nya, loh. Banyak jasa fotografi yang menawarkan paket hemat dan terpisah, jadi kita bisa pilih, misalnya tanpa pre-wedding, hanya dapat satu album atau satu flashdisk berisi soft file fotonya, tanpa print bingkai, dll. Sudah banyak juga yang 'islami', contohnya yang mau melayani foto saat acara dan post-wedding saja. Jadi, jangan khawatir! Yang punya kenalan fotografer juga siapa tahu bisa dimudahkan, hehe. 

DEKORASI
Buat dekorasi yang penting, kami sepakat hanya menyewa tenda dan panggung pelaminan. Dekorasi katering sudah dari sananya, sementara detail lain membuat sendiri. Di Indonesia, menyewa tempat terbuka yang gratis/terjangkau seperti taman rasanya belum ada, ya. Padahal kalau bisa menggelar di taman publik atau taman nasional seperti yang terjadi di luar negeri, budget di dekorasi bisa ditekan karena sudah ada pemandangan yang bagus :D

Kalau katering, gedung, dokumentasi, dan dekorasi utama sudah, baru deh menentukan apa saja yang di-DIY. Buku tamu, hiasan dinding, photobooth, aksesoris, baju, suvenir... the options are endless!

EVALUASI

Fast forward ke pascapernikahan digelar, dekorasi dilepas dari gedung, katering packing, dan semua orang kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Alhamdulillah semuanya lancar. Namun... apa ada yang tertinggal? Tentunya. Ada saja rencana yang saat hari-H tidak dilaksanakan, atau yang sengaja dihapus, atau yang terlupa.

Karena kita bahas DIY di sini, jadi saya ceritakan yang tidak berhasil di-DIY saja, ya. Namun sebetulnya tanpa itu pun acara tetap berlangsung, kok. Cuma saya teringat sebelumnya betapa 'ambisius'nya saya untuk membuat atau merencanakan DIY itu, haha. Ada beberapa yang ingiiiin sekali saya buat sendiri, tapi akhirnya jadi beli atau tidak dilakukan, yaitu:

- Aksesoris (flower crown dan boutonniere). Pengin banget rasanya bikin sendiri, tapi takdir berkata lain karena baru bisa bikin-bikinnya setelah nikah ^^" tapi alhamdulillah setelah kepo di Instagram, akhirnya menemukan pengrajin yang cocok dengan aksesoris yang saya mau dan ternyata tinggalnya dekat dengan rumah! Mbaknya baru saja pindah dan ketika saya ke sana rasanya seperti menemukan harta terpendam: supplies-nya banyak bangeeet. Jadilah di sana sekalian pilih bunga dan warnanya, juga beli aksesoris lain seperti headpiece (yang akhirnya dipakai adik saya) dan buket calla lily.

-  Makeup. Dari awal ingin bisa makeup sendiri di hari nikahan, karena selain menekan budget, juga bisa sesuai selera (I want bold lipstick for my wedding!). Namun kalau dilihat lagi saya bersyukur bisa bertemu MUA serbabisa dengan harga yang dinego dan tetap terlihat wedding-nya. Emak saya yang mencarikan MUA-nya, yang ternyata juga ibu RW (masih muda, loh!). Wedding veil, tiara, bros, sampai dalaman kerudung juga dipinjamkan. Dan sekarang mungkin saya akan menyesal kalau jadi pakai lipstik bold warna plum di hari nikah... haha.

- Wedding program. Kalau lihat-lihat di situs wedding luar negeri, mereka biasanya punya acara atau games atau pojok lucu-lucuan yang DIY-able banget, seperti wedding wishes buat pengantin, coloring page buat anak-anak, atau stiker lucu-lucu. Sebetulnya saya sendiri sudah bikin template buat coloring page karena akan mengundang anak murid, tapi ketika mendekati hari-H malah terlupakan. Alhamdulillah ada bunga-bunga kertas yang bisa diambil, dan benar saja--ketika acara selesai, bunga-bunga itu sudah habis diambil anak-anak, haha.
Coloring page yang nggak jadi dicetak, drawn by yours truly

LAIN-LAIN

Demi menghemat pengeluaran, selain DIY, ada pula yang di-tone down seperti musik. Kami tidak memakai live music karena 1) tempatnya tidak cukup, 2) tidak bisa menemukan wedding band yang memainkan lagu-lagu kesukaan saya, haha. Belajar dari salah satu teman yang juga budget wedding, mereka menggunakan playlist MP3 biasa yang diputar lewat sound system. Jadilah All Time Low, Tonight Alive, Yellowcard, dan Mae mengalun di pernikahan kami :D saya pilih versi akustiknya agar sesuai dengan mood nikahan. Oh ya, untuk musik saya dibebaskan memilih oleh suami, asal satu pilihan dia juga masuk, yaitu Careless Whisper-nya WHAM!. Berhubung arti lagunya malah patah hati, akhirnya saya hapus (maaf ya bapake, hehe).

Ngomongin musik dan Careless Whisper, ada yang lucu--salah satu murid saya janji mau memutarkan Careless Whisper di nikahan kami dan ya, dia mengeluarkan ponselnya dan mulai memutar Careless Whisper di depan semua orang -_- (perihal bagaimana dia bisa tahu lagu itu, saya kurang tahu. Mungkin dari orangtuanya yang senang film Deadpool).

Satu lagi; bukan yang bisa/tidak bisa di-DIY atau yang diminimalisasi, tapi yang berbeda dari kebiasaan di nikahan. Pelaminan kami urutannya bukan orangtua-pengantin-orangtua, tapi pengantin-orangtua-orangtua. Ya, kami menyapa tamu lebih dulu dan arrangement ini harus sampai dijelaskan oleh MC-nya ^^" Jadi kami yang repot menyambut tamu dan berdiri sementara kedua orangtua kami mengobrol seolah di lounge, haha. Kami sih, tidak keberatan.

Jadi, begitulah pernikahan kami satu tahun yang lalu (nggak kerasa, ya...). Lagi-lagi, semuanya tergantung pengantin dan keluarganya, seleranya seperti apa, apa saja yang penting untuk mereka, dan itu berpengaruh ke sektor mana mereka harus lebih mengeluarkan uang dan mana yang bisa dihemat. Teman saya lebih memilih mengadakan pernikahan di hotel yang sudah fixed harganya dan paketan, ada juga yang di rumah dan menyewa panggung. Namun ingat, apa pun yang dipilih, tetap ada konsekuensinya, misalnya jumlah tamunya harus terbatas, atau disediakan jalan yang aman dari tempat parkir ke gedung, atau dekorasi yang seperlunya. Asalkan kita bisa menerimanya dan menikmati momen itu, maka semuanya akan baik-baik saja :)

Selamat berunding, berencana, dan ber-DIY, ya! Semoga pernikahannya lancar dan diberkahi <3 At the end of the day, it's about you and your beloved ones. Kalau ada orang lain yang 'nyinyir' kenapa ngundangnya sedikit, atau nggak ada zuppa soup-nya, atau kok nggak pakai adat, biarkan saja. Suami setuju, keluarga inti setuju, sisanya hanya bisa kita minta untuk nikmati saja. Ya, nggak?

Wednesday, September 6, 2017

My DIY Wedding Part 1: Photo Gallery

all photos are private properties, captured by Posko Studio 86
Waktu kecil, saya pernah sempat tertarik dengan pernikahan a la Disney Princess. Gaun panjang, sparkle, ballroom mewah, pangeran. Setelah akhirnya melewati fase itu, saya jadi punya satu cita-cita jika kelak saya menikah: saya ingin pernikahan tanpa adat, hanya syariat.

Konsep yang kurang familier, tentu, apalagi jika memiliki keluarga besar seperti saya dan suami. Alhamdulillah, semuanya lancar, dan kini kami sudah memasuki bulan ke-4 (baru saja monthversary. Is there such a thing? Haha). Lantas, konsep apa yang pas dengan yang saya inginkan? Setelah riset kecil-kecilan, saya dan keluarga akhirnya yakin menggunakan DIY pada beberapa bagian, meski akhirnya tidak jadi bertema rustic atau vintage dan lebih menjurus ke whimsical. Tetapi, intinya sama, yaitu menggunakan barang buatan sendiri yang pastinya memberikan sentuhan berbeda dan lebih personal.

Di sini, saya semata ingin menunjukkan hasil karya DIY-nya sebagai bentuk apresiasi pada mereka yang telah membantu pelaksanaan pernikahan kami, yang membuat acara itu terasa sakral dan privat meski on-budget. Ada yang betul-betul sesuai dengan rencana awal, ada juga yang kejutan karena tiba-tiba datang di acara! Tentu saja aspek yang di-DIY-kan dalam wedding tidak mesti seperti ini, tergantung keperluan dan selera pengantinnya. Kebetulan, selera pengantinnya seperti ini, hehe. Semoga saja jika selera kita sama, postingan ini bisa membantu menginspirasi.

DIY #1 GUEST BOARD
Guest board dan wedding sign adalah DIY yang direncanakan dan dibuat sejak awal, bahkan bisa dibilang kali pertama, jadi prosesnya kurang lebih hampir setahun. Saya memang ingin tempat tanda tangan yang paperless dan bisa jadi kenang-kenangan nantinya. Saya pikir, bapak saya akan membuat yang lebih kecil dari ini, tidak tahunya cukup besar juga, ya. Ini adalah hasil karya bapak dan dua adik laki-laki saya, mulai dari pemilihan warna cat, font, hingga menghias bagian pinggirnya.

DIY #2 WEDDING SIGN
Ini juga hasil karya para lelaki di rumah. Saya suka sekali dengan hasilnya! Meski memang rencananya akan dihias lebih banyak bunga. Tetapi, melihat sign ini di depan gedung alih-alih janur cukup membuat saya merasa ini pernikahan saya dan suami, dan orang-orang terdekat kami bisa langsung tahu bahwa kami--setidaknya saya--menaruh kesukaan dan ciri khas di acara sendiri.

DIY #3 WEDDING DRESS
Bulik saya adalah tangan di balik gaun ini. Aslinya, gaun ini sangat sederhana, like, very simple. Hanya dress panjang berbahan satin dan chiffon yang dihias beberapa kristal. Tetapi, saya memang lebih suka gaun warna putih ketimbang yang berwarna-warni dan ramai. MUAnya, yang juga penata kerudung saya, menambahkan aksesoris yang membuat gaun simpel itu tak lagi begitu simpel. Ada tiara, veil panjang sampai batas kaki, dan bros. Saya juga tidak ingin baju berbeda untuk akad dan resepsi karena ribet, haha. Bisa dilihat bahwa bedanya hanya terletak pada bros, dalaman kerudung, dan headpiece. Di resepsi, saya memakai flower crown dan dalaman kerudung berwarna ungu.

DIY #4 DECORATION
Dan inilah DIY yang lebih memakan waktu ketimbang guest board atau wedding sign. Mengapa? Karena perintilannya banyak! Rasanya bunga yang sudah dibuat, sebanyak apa pun, tetap saja terasa kurang. Hingga akhirnya ketika H-1 datang, adik-adik lelaki (dan lelaki dari para sepupu juga) turut membantu menghias dan meletakkan dekorasi yang sudah dibuat pada tempat-tempat strategis sehingga terasa penuh. Alhamdulillah, kerja keras itu membuahkan hasil. Meski tidak meluangkan ruang untuk photobooth, ternyata banyak tamu undangan yang berfoto dengan dekorasi DIY ini. Terlebih setelah mereka tahu bahwa bapak sayalah yang membuat sebagian besarnya.

Oh ya, karena dekorasi DIY juga, yang tadinya akad dilaksanakan di pelaminan di luar gedung, jadi diminta penghulu untuk dipindah ke dalam karena katanya latarnya bagus ^^"

DIY #5 WEDDING FAVOR
Jadi, cerita di balik suvenir ini adalah saya tadinya mau bikin pembatas buku DIY dengan paper clip kecil. Tetapi, Emak dan Bapak bilang lebih baik clip yang besar saja, dan hiasannya adalah rajutan karya Emak yang sempat iseng-iseng dibuat. Sebetulnya tak hanya pembatas buku ini, tapi juga ada gelang yang desainnya beda satu sama lainnya, bros rajut, sampai gantungan kunci rajut. Semuanya dibuat oleh Emak selama setahun hingga jumlahnya 300+, kecuali bros rajut yang pemberian dari Ua saya. Sayangnya, gelangnya tidak ikut difoto, padahal itu wedding favor favorit saya.

 DIY #6 WEDDING STEAMED CUPCAKE
Nah, yang satu ini kejutan! Saya sama sekali tidak mencantumkan kue dalam rencana, bahkan sampai hari-H. Ternyata, pagi-pagi, bulik-bulik saya mengantarkan ini. Ini kue kukus dari siapa, ya? Memang, dulu saya pernah bilang ke adik kalau saya lebih suka cupcake yang ditumpuk menyerupai kue bertingkat ketimbang kue yang bundar (gara-gara baca manga 'Delicious!', ada yang ingat?). Sudah begitu, warnanya ombre! Selesai acara, baru saya tahu jawabannya. Sepupu saya yang juga baker, namanya Mbak Nanda, memang sengaja membuat kue kukus bertingkat itu sebagai kado kejutan. Biasanya kue pengantin itu kue bolu, yang ini justru kue mangkuk kukus. Senang banget rasanya. Terima kasih ya, Mbak x)

Satu lagi yang juga DIY tapi tidak ditampilkan (tapi bisa dilihat sekilas di sini): undangan. Mulai dari desain sampai printing, semuanya sendiri! Saya mendesain keseluruhannya, tapi adik saya ikut me-layout dan mendesain logo huruf I dan R-nya alias monogram (karena saya tidak mau pakai cursive). Dia juga yang menerjemahkan undangan berbahasa Inggris saya ke bahasa Indonesia. Mengapa bahasa Inggris? Simpel dan kata-katanya efektif. Namun, saya hanya memberikan itu pada beberapa orang saja, sisanya tetap menggunakan undangan berbahasa Indonesia yang panjang, hehe.
Monogram yang didesain adik saya. Sayangnya waktu itu belum kepikiran buat taruh monogram ini di stationery dan dekor lainnya, jadi cuma ada di undangannya.
My DIY Wedding Part 1 dicukupkan sampai sini dulu, ya. Di Part 2 nanti, saya mau bercerita proses DIY itu sendiri, apa saja yang kira-kira bisa di-DIY, dan sedikit tip agar DIY kita bertahan sampai waktunya tiba dan berhasil memeriahkan suasana (?) ya, pokoknya sukses lah, hehe. Adakah dari kalian yang berencana menikah dengan DIY juga? Atau justru sudah menikah dengan DIY dan killed it? Boleh berbagi di komentar, ya! Sampai bertemu lagi :)

Monday, May 9, 2016

Vintage + Rustic = ❤️

Akhirnya saya muncul lagi di Kembang Gula! Seperti biasa, kalau tiba-tiba muncul, biasanya belum ada tutorial atau apa pun, baru perkenalan (kembali) saja. Hehe.

Kemarin-kemarin ini saya memang bersentuhan dengan DIY lagi. Ada beberapa 'produk' kalung dan gelang yang iseng saya buat, juga camilan manis kalau sedang pulang ke rumah. Apalagi sekarang adik perempuan saya sudah berkuliah di Manajemen Industri Katering (baca: tukang masak yang diajarkan cara berjualan). Urusan dessert men-dessert jadi lebih banyak referensinya :D

Oke, sekarang saya akan cuap-cuap saja dan sedikit berbagi tentang kesukaan saya baru-baru ini (atau sudah lama tapi bangkit lagi, lebih tepatnya) terhadap vintage and rustic stuff.

"Back in my days, people are playing outside..."

For me, vintage is timeless and endless. Kecintaan saya terhadap sesuatu yang berbau masa lalu (bukan mantan) ini banyak dipengaruhi oleh Bude dan rumah Nenek saya yang berada di KPAD Bandung. Saat saya beranjak remaja, badan saya dan Bude seukuran sehingga beliau sering menghibahkan koleksi bajunya ke saya, yang memang berpotongan 'hits' pada masanya. Ditambah saya tinggal selama empat tahun di rumah Nenek, saya jadi makin nyaman dengan suasana jadul dan segala pernak-perniknya.

Salah satu yang akhir-akhir ini menjadi tren adalah rustic. Terutama untuk pernikahan dan dekorasi rumah. Peralatan yang terkesan 'karatan' selalu membawa aura artistik seolah tak lekang waktu. Gurat-gurat kayu juga mengesankan kekokohan, dan benda-benda berkayu kuat memang sering saya temui di rumah Nenek (termasuk lemari baju saya yang ditempeli stiker dari tahun 70an. Saya akan sertakan fotonya jika sempat, ya!). Belum lagi suasana taman bunga yang asri, dibiarkan tumbuh liar tapi tetap menawan. Ini juga mengingatkan saya akan tanaman mawar hutan di depan rumah Nenek dan motif bunga mawar di black sheer outer kepunyaan Bude yang diturunkan ke saya.

Woods, roses, and all that!

Lalu, mengapa saya menuliskan topik ini? Seiring kepo saya pada keterbaruan soal rustic, ternyata tidak hanya sebatas perabot kayu bergurat dan kartu pos Eiffel. Desain--terutama desain grafis--mengadopsi gaya ini dalam bentuk handwriting font, warna yang bersih dan lembut, juga tipografi dinamis. Saya menemukan diri saya jatuh hati pada kesederhanaannya, dan betapa mixed media adalah sesuatu yang lucu dipandang. Paduan huruf blok dan huruf sambung, simbol-simbol taman, warna pastel... tidak heran jika cocok dipadankan dengan wedding. Kelihatan sophisticated.

SAYANGNYA... (nggak usah pakai huruf besar juga, kali) tampilan rustic boleh saja ndeso, tapi bagaimana jika diterapkan di Indonesia? Contohlah untuk wedding, yang notabene kita sendiri sudah punya 'patokan' dan kekhasannya, seperti janur, makan prasmanan, musik dangdut (tidak semua, sih), atau upacara adat. Jika saya melihat ada yang menggelar pesta pernikahan bertema rustic, saya sudah ngeri membayangkan budget-nya, karena detailnya banyak dan kurang umum di Indonesia! Sebuah mason jar (versi gelasnya, beli di Brigif saat Minggu pagi) itu bisa seharga Rp 12.500. Dan untuk membuat sebuah ruang resepsi berhiaskan mason jar dengan bunga potong di dalamnya bisa membutuhkan lebih dari 10. And at this point, I wonder if I can replace it with botol sirup Tjampolay.

Coba kita ganti dengan Tjampolay yang juga vintage

(kecuali saya menikah dengan miliarder)

But let's face the truth. Ingin dekor rustic, tapi budget terbatas. Lantas apa yang dilakukan jika ada yang terbatas? DIY! Yap, akhirnya saya teruskan kepo saya pada barang-barang rustic vintage dengan kata kunci 'DIY' di depannya. Untungnya, kita--saya--tidak sendirian. Banyaaaak sekali situs yang memberikan informasi soal DIY wedding, terutama yang rustic, dan itu tidak terbatas pada perhiasan saja namun perencanaan keuangan juga atau tips untuk menghemat. Dan memang tidak semua bisa kita DIY (bayangkan masak untuk 200 orang dalam semalam!), dan memilah-milah seperti itu jadi tahap penting untuk merencanakan sebuah event dengan tema rustic DIY (atau apa pun, sebetulnya).

See? DIY-able banget kan, kartu undangan ini?

Inginnya sih, saya aktif lagi di sini dan mem-posting apa yang saya temukan soal DIY vintage rustic ini. Jadi tulisan ini betul-betul permulaannya. Saya juga berharap apa yang saya tulis nanti bisa diterapkan di negeri kita (e.g. terjangkau, hasilnya memuaskan, bisa dibuat sendiri). Lalu, terinspirasi juga dari beberapa situs yang menyediakan free printable, mudah-mudahan bisa terlaksana di sini, ya! Apa yang printable? Kita lihat saja setelah ini, hehe.

Keburu lupa: sumber semua foto adalah Google, sedikit dari hasil kepo.

Oh ya, sekali lagi, terima kasih untuk yang sudah mampir ke sini dan meninggalkan komentarnya! Maaf kalau membalasnya cukup lama. Doakan saya agar bisa konsisten mengisi konten KG di sela-sela mengajar, menulis, dan mengurus dua blog lain seperti di sini dan ini. Have a wonderful day!

Thursday, October 2, 2014

Review: P.S.- I made this... Blog

Hola! Seperti yang pernah saya bilang, saya akan menulis review. Kali ini sebuah blog inspirasi saya ber-DIY. Mungkin, dengan meresensi sedikit tentangnya, inspirasi yang saya dapat dari sana juga bisa tertular ke para pembaca postingan ini ;)

Daaan... blog yang akan kita simak di sini adalah...

Klik di sini untuk ke lamannya

Oh, ya. Semua foto di sini hasil print screen ya, dan keindahan yang akan kamu lihat nanti murni hasil karya owner-nya, Erica. Yuk, kita mulai.

Satu kata yang mencerminkan blog ini menurut saya adalah: catchy. Catchy namanya, catchy tampilannya, catchy fiturnya, dan yang paling esensial, catchy foto-fotonya! Dari laman awal saja kita sudah disuguhi pemandangan yang bikin tangan gatal. Perpaduan warnanya apik, terlihat sekali kalau pemilik blog ini begitu skillful dalam urusan DIY blog.

Tampilan Homepage
Selain DIY standar, ada juga video untuk step-by-step lebih jelas dan favorit saya... Craft Math!

P.S.- I made this... memiliki beberapa fitur yang semuanya berkaitan dengan craft dan DIY yang tergolong lengkap, mulai dari aksesoris, fashion, sampai kue!
 
Menu DIY P.S.- I made this... di laman utama

Cantik banget, kan? Dari awal saja sudah bikin kita nge-klik. Beberapa keunggulan lain dari situs ini adalah bagaimana semuanya terlihat mudah. Erica menulis tahap demi tahap dengan rumus Verb 1 + IT yang kalau di-Bahasakan kira-kira menjadi cuma ditambah imbuhan -kan. Ini contohnya:

Lihat? Cuma tiga tahap!

Dengan menulis segalanya ditambah It, menurut saya itu brilian karena membuat yang membacanya jadi terpacu untuk mempraktikkan dan bilang 'Hah? Gini doang?'. Saya pun termasuk yang terprovokasi dengan 'kemudahan' cara yang ditawarkan blog ini. Alhasil, buat kita-kita yang baru ingin coba-coba DIY-an, bisa ambil referensinya dari sini.

Memang terlihat gampang banget, kan? Nah, ternyata ada yang bikin lebih mudah lagi: fitur baru bernama Craft Math. Sesuai namanya, DIY ini ibaratnya tinggal 'tambah-tambahin' saja. Biasanya tediri dari tiga alat atau bahan dengan hasil jadi yang cukup singkat. Contohnya seperti ini:

Mirip CaraCepat di blog ini, tapi tetap ada bedanya, kan? :D

Dan hmmm... ini yang membedakannya dengan blog sejenis. Sebelum masuk cara membuat, ada satu ilustrasi hasil photo editing yang kece berat bertema benda yang akan di-DIY, entah itu inspirasinya --banyak replika di sini--atau pelengkap. Malah terkadang, kita bisa terinspirasi dengan foto-foto itu saja. Perpaduan warna dan komposisinya terlihat jelas hasil buatan profesional. Semuanya indah.

Preview isi blog. Melihatnya bikin bilang, 'Mau coba semuanyaaa!'

Meskipun begitu, tentu saja masih ada sedikit kekurangan di blog ini. Pertama, blog ini berbasis di Amerika Serikat, dan otomatis beberapa bahan, alat, serta aplikasi penunjang lain hanya tersedia di sana (atau toko online yang hanya melayani pengiriman di Amerika). Selain itu, dibutuhkan skill 'nyeni' seperti melukis yang cukup agar hasilnya bisa mirip seperti di gambar, terutama di DIY yang memerlukan gambar dan cat. Dan satu lagi: walaupun dibuat terlihat mudah, ada beberapa yang nyatanya memiliki tingkat kesukaran tinggi, sampai dibuat videonya agar lebih jelas. Jadi, siapkan alat-bahan yang bagus dan perkirakan waktu serta usaha yang bakal dipakai untuk membuat DIY itu sebelum betul-betul mencobanya.

Ya! Segitu dulu dari kolom review. Kalau ada yang punya rekomendasi lain untuk blog DIY, silakan komentar di postingan ini, ya! Kalau bisa, yang berbahasa Indonesia. Ciao!

Sunday, April 20, 2014

Apple Cake and Tea Jelly


It's really been a long time! Terima kasih kepada semua yang sudah mampir ke sini. Saya tahu saya masih belajar banyak soal DIY, dan masih kepingin kabur dari kenyataan dengannya (apalagi di zaman hectic begini!) jadi, saya usahakan semampu saya untuk terus menulis di sini :)

Oh ya, kenapa kali ini tidak ada kata DIY di judulnya? Karena memang cuma galeri, tanpa cara membuat dan bahan-bahan, hehe. Menjelang akhir tahun kemarin, saya jadi lebih suka membuat DIY makanan (yay dessert!) yang memang dari dulu saya sukai. Bahkan, saya ingat banget, dulu sempat iseng jualan makanan buatan sendiri yang syukurnya diminati. Sayang, empat tahun belakangan ini, kegiatan itu terhenti. Jadilah begitu ada kesempatan, saya tanpa ragu langsung bikin!

ini penampakan dari samping... saya seperti masih bisa mencium aromanya yang memang wangi banget! :D

Senang banget rasanya begitu lihat kue ini berhasil dipanggang dengan baik. Teksturnya yang nggak begitu lembut, remahnya yang sayang banget dibiarkan, dan perpaduan apel dengan kayumanisnya bikin nagih. Satu lagi, bagian terbaiknya: mengenyangkan! Kue memang semestinya bikin kenyang.

Membuatnya juga relatif mudah karena tidak perlu pakai mixer. Tapi memang sedikit capek, sih. Cuma semua itu benar-benar terbayar di akhir. Rasanya homey dan manis.

Sekadar info; apple cake ini salah satu kue tradisional dari Eropa, terutama Jerman dan Inggris. Saya tipe yang suka sama kue yang punya kesan hangat dan sederhana. Kue ini, bisa dibilang, gue banget. Sebelumnya saya juga senang bikin banana bread dan brownies. Suatu saat kalau ada kesempatan lagi, pasti saya buat!

Selain apple cake, saya juga sempat membuat tea jelly--yang gampangnya kebangetan. Bahannya teh hitam, air, jeli rasa plain, gula--sedikit saja, karena selain selera saya juga agar lebih mengeluarkan rasa tehnya--dan vla jika suka. Ditambah lemon juga bisa.

 Ini salah satu langkah cara membuatnya. Wangi teh di mana-mana :)


Berikutnya, saya pikir saya akan bikin segmen baru--review. Resensi tentang apa pun yang berhubungan dengan DIY, baik itu bahan, buku DIY, blog sejenis, sampai tempat rekomendasi. Biar makin banyak postingannya :D Semoga bisa terus konsisten berkarya.

Sampai jumpa di ranah kreatif selanjutnya!