Showing posts with label DIY wedding series. Show all posts
Showing posts with label DIY wedding series. Show all posts

Tuesday, July 17, 2018

DIY Indo: Undangan Printable (Freebies!)


Dari dulu saya ingin membuat tutorial yang printable di blog ini. Pernah satu kali di blog guru (waktu masih mengajar) saya posting free printable template rumah dan sekolah 3D dari kertas untuk project anak-anak. Waktu masih riset-riset tentang wedding sebelum nikah (karena sekarang juga suka), saya menemukan banyak undangan printable yang gratis di-download dengan desain yang nggak kalah sama pesan di percetakan. Lalu saya berpikir, kayaknya kalau bikin satu saja yang berbahasa Indonesia, bisa kali, ya :P

DIY undangan, atau stationery pada umumnya, menjadi salah satu trik menghemat pengeluaran pernikahan yang sudah dipraktikkan banyak brides termasuk saya. Undangan pernikahan saya dan suami didesain saya, lalu disempurnakan adik yang lebih jago (plus dialihbahasakan) dan dicetak mandiri dengan printer pinjaman saudara (big thanks to them lah pokoknya!). Saya pribadi tertarik mencetak undangan sendiri setelah melihat free printables itu. Rasanya simpel banget, aesthetic, nggak neko-neko, cocok dengan konsep nikahan kami yang low-key dan santai. Kalau kamu juga berencana punya nikahan yang semi- atau non-tradisional dan ingin ada sentuhan DIY tanpa ribet, yuk simak tutorial kali ini :D

Sedikit saran untuk yang ingin mencetak undangannya sendiri: perhatikan jumlah tamu yang akan diundang. Biasanya percetakan punya batas minimum yang besar (misalnya 1000 eks) sedangkan tamu kita nanti hanya 300, nah DIY undangan bisa jadi salah satu solusinya. Atau pilih percetakan yang batas minimumnya rendah. Atau... kalau sudah fixed memesan di percetakan, DIY undangan ini bisa jadi e-invite untuk disebar di grup chat atau sosial media.

Saya memakai warna dominan peach dan sage bergaya santai dan sederhana. Beberapa kondangan yang saya datangi memakai setidaknya warna peach atau hijau pupus seperti ini, jadi saya pikir ini akan cocok untuk banyak calon pengantin. Ukurannya kurang lebih 14 x 19 cm. Bahasanya dibuat singkat dan umum, tapi nanti bisa ditambah pembuka. Oh ya, saya pakai font 'Give It Your Heart' dari Vanessa Bays (teks utama) dan 'Xiomara' dari Lauren Thompson (nama bride dan groom). Kedua font itu termasuk free for personal use ya, jadi undangan ini bukan untuk dijual lagi! Postingan ini murni gratisan.


N.B. Nama calon pengantin saya ambil dari nama tokoh di novel saya, 28 Detik (kalau ada yang ngeh, bonus poin untuk kamu! :D).

Alat dan bahan:

Template undangan dan font (unduh di sini)
Software Adobe Photoshop CS (saya pakai CS5)

Cara membuat:

1. Unduh template lalu ekstrak file-nya. Kamu akan dapat satu file berformat .psd dan dua free font yang masih dalam bentuk .zip. Ekstrak juga file font-nya.
2. Instal font. Jika belum tahu caranya, silakan baca postingan ini (skip langkah ini jika sudah punya font-nya di komputer kamu).
3. Setelah instal font berhasil, buka file psd-nya. Kamu akan menemui tampilan yang kurang lebih seperti gambar di bawah ini.


4. Lihat tool bar yang ada di sebelah kiri layar, lalu pilih Horizontal Type Tool (atau CTRL + T).


5. Ubah nama calon pengantin perempuan dengan klik di bagian namanya, hapus, kemudian ketik lagi dengan nama yang diinginkan.


Setelah diganti, tampilannya akan seperti ini.


6. Jika kamu perhatikan gambar pertama di langkah nomor 5, di pojok kanan ada tab layers. Semua yang ada di grup 'Editable texts' adalah yang bisa kamu ubah. Bisa dilihat ada pembuka, nama calon pengantin wanita dan pria, nama keluarga, dan lain-lain. Caranya sama dengan langkah 5, tinggal klik di teks yang ingin kamu ubah atau klik layer-nya.


Jika mau menambahkan salam atau pembuka, kamu bisa ketik teks seperti Assalamu'alaikum dan Bismillahirrahmanirrahim. Kalau tidak, tinggal hapus saja.


7. Setelah semua informasi sudah diganti, simpan sebagai gambar .jpg dengan cara klik File > Save As > pilih format .jpg/.jpeg. Sebarkan sebagai e-invite atau cetak di kertas ukuran A4 (bisa memuat dua lembar undangan).

Selesai! Tinggal umumkan hari bahagiamu kepada keluarga dan teman-teman :) Bisa sekalian juga bikin amplopnya jika mau dan niat hehe.

Sedikit tip untuk penulisan bulan: karena contohnya pakai bulan Juli yang hanya empat huruf, bisa jadi ketika mengetik Agustus atau September bentuk teksnya akan terlihat kurang seimbang karena terlalu panjang. Kamu bisa mengetiknya menjadi singkatan, seperti Feb dan Mar, atau ubah jadi format angka misalnya 12/08/2018, atau kecilkan ukuran font-nya.

Mudah-mudahan freebies ini berguna, ya. Let me know if you downloaded and made it! Jika ada pertanyaan tentang file atau langkah-langkah mengeditnya, bisa langsung layangkan di kotak komentar. Beri juga pendapat kamu tentang desainnya ya, baru pertama kali nih bikin file printable, hehe. Dan sudah lama juga nggak mainan sotosop kayak begini lagi (software yang satu itu sudah bikin saya susah move on ke aplikasi editing lain).

Saturday, June 30, 2018

My DIY Wedding Part 2: Planning + Evaluation


Melihat tulisan-tulisan sebelumnya di blog ini, saya jadi malu. Pembukanya sama semua, haha. Kalau bukan 'hai' atau 'halo', ya kalimat dengan tanda seru di belakangnya. Namun itulah yang menjadikan kita semua manusia--berkembang dan selalu belajar.

Seperti di Part 1, karena tujuan saya berbagi, jadi semua informasi di postingan ini tidak berlaku sebagai patokan. Ada yang DIY wedding-nya 100%? Ada! Ada yang DIY wedding-nya cuma direncanakan dalam waktu tiga bulan? Ada juga. Semua tergantung kemampuan masing-masing calon pengantin dan keluarga. Untuk pernikahan saya dan suami sendiri, kami mempersiapkannya dari satu tahun sebelumnya karena suami harus pergi dinas ke Banyuwangi sementara saya masih di Bandung. Keuangan dan segala macamnya juga tidak strict, karena alhamdulillah selama persiapan ada saja bantuan yang datang, entah itu dari keluarga atau teman. Jadi jujur saja kalau ditanya berapa budget-nya, kami bingung, hahaha. Yang ini jangan ditiru, ya. Saya pernah lihat beberapa utas di Twitter yang membicarakan budget wedding dengan lebih rinci bahkan sampai menyertakan spreadsheet segala. Kalau di sini, kita fokus ke DIY-nya saja, ya :D

(Dibaca-baca lagi... dengan pembuka kayak tadi... kenapa jadi kerasa formal banget? Haha)

Sebelum masuk ke rencana--ingatlah bahwa pernikahan itu magical. Jadi, jangan heran ketika di tengah persiapan ada saja kejutan-kejutan menarik yang membuat pernikahan jadi tak terlupakan. Don't stress out too much, fokus ke yang penting, dan saat hari itu datang, nikmatilah. Yang melenceng dari perkiraan tetap saja ada, tapi kalau sudah bersatu dengan orang tercinta, apa pun akan kelihatan indah, kan? Haha giung banget ini!

RENCANA

Karena dari awal sudah memutuskan untuk men-DIY beberapa hal, kami lalu membagi kategori: mana yang bisa di-DIY, mana yang sebaiknya menggunakan vendor. Buat kami, apa saja yang di-DIY bisa dilihat di sini. Perencanaan ini dibuat sejalan dengan menyusun daftar acara dan 'panitia' atau person in charge yang nantinya akan bertugas.

Biasanya pernikahan itu membutuhkan apa saja, sih? Lagi-lagi, ini tergantung kebutuhan. Keluarga kami sepakat untuk menggelarnya tanpa adat, jadi acaranya hanya akan ada akad dan resepsi. Nah, dari sini dipecah lagi, apa saja yang dibutuhkan selama akad dan resepsi. Namun memang ada beberapa yang penting dan umum, contohnya:

- Venue/Tempat diselenggarakannya acara
- Katering
- Dokumentasi
- Dekorasi

Buat kami, empat hal itu yang dipikirkan pertama kali. Dan yang tidak/kurang bisa di-DIY.

(I mean, how can you build your own venue?)

Tapi kan, dekorasi bisa bikin sendiri juga? Tentu, makanya kami urutkan lagi mulai dari yang tidak bisa dikompromi hingga yang bisa ditambah-tambah sendiri. Urutannya jadi: Katering-Gedung-Dokumentasi-Dekorasi. Kita bahas yang tiga pertama dulu ya, mengapa harus non-DIY.

KATERING
Pernah datang ke kondangan, kan? Siapa yang sering kamu lihat berlalu-lalang selain tamu? Petugas katering. Yang satu ini memang sebaiknya menggunakan jasa, karena ada 'seni'nya tersendiri dalam menjamu sebanyak itu. Resepsi pernikahan, selain untuk mengumumkan, juga sering dilihat sebagai bentuk rasa syukur karena kedua keluarga telah dipersatukan, jadi pastikan kateringnya memuaskan dan mencukupi porsi tamu yang datang.

GEDUNG
Tadinya, kami ingin pernikahan digelar di rumah saja. Selain murah, dekornya juga nggak akan macam-macam. Namun satu minusnya pernikahan di rumah adalah tidak ada jam selesai, yang artinya tamu bisa saja datang sampai malam, dan kami jadi harus menjamu. Jadi kami mencari gedung yang terjangkau dan punya ruang parkir yang cukup. Dengan adanya halaman parkir, tamu juga lebih nyaman untuk datang dan cepat sampai di gedungnya.

Saran saya, kalaupun berencana menggelarnya di halaman rumah, pastikan saja ada tempat parkirnya. Salah satu yang akhirnya membatalkan rencana kami menikah di rumah adalah itu, karena jalan masuk ke rumah cenderung sempit dan tidak ada cukup ruang untuk parkir.

DOKUMENTASI
Awalnya saya tak menyangka ini jadi faktor 'utama' yang tidak bisa didebatkan lagi selain harus menyewa jasa profesional. Namun setelah riset di internet, saya justru menemukan hire a good photographer jadi yang paling disarankan pengantin dan artikel wedding. Seperti katering, fotografi pernikahan juga punya seninya tersendiri, seperti bagaimana cara menangkap momen yang cepat berlalu seperti akad (serius, kamu nggak akan kerasa tahu-tahu sudah jadi istri orang saja!), sungkeman, dan post-wedding dengan latar ciamik. Ini terbukti di pernikahan kami. To be brutally honest, kami hanya menyewa gedung serbaguna milik RW, dengan dekorasi pelaminan yang paling sederhana, pemandangan sekeliling yang kebanyakan rumah warga, dan tentunya ruang yang terbatas. Kalau bukan profesional yang memotret, mungkin saja di belakang kami ada anak kecil lari-lari atau orang lewat sekelebat, atau dinding mengelupas (haha), atau kekurangan lainnya. Dengan menyewa jasa fotografi, dari tempat sesederhana itu, bisa dibilang kami puas dengan hasilnya yang menonjolkan detail (terutama DIY-nya) dan fotogenik. Briefing dengan fotografernya juga penting ya, agar kita bisa menyampaikan maksud kita, ingin hasil foto yang seperti apa.

Foto ini diambil persis di sebelah pelaminan, dan sebetulnya di sekitar kami sedang ramai. Tapi nggak kelihatan, ya? :D
Detail seperti sepatu yang saya pakai juga diabadikan oleh fotografernya. Yang ini diambil di taman samping rumah.

Namun, kami tidak menyewa videografer. Menurut beberapa kerabat yang sudah menikah, mereka semua bilang video tidak akan dipakai atau ditonton lagi, haha. Harganya pun lumayan. Foto tetap ada, tapi jika kamu tipe yang suka menonton video dan ada budget-nya, boleh saja berinvestasi untuk merekam momen sekali seumur hidup ini.

Dari tiga elemen penting ini, sesungguhnya dokumentasi jadi yang bisa paling ditekan budget-nya, loh. Banyak jasa fotografi yang menawarkan paket hemat dan terpisah, jadi kita bisa pilih, misalnya tanpa pre-wedding, hanya dapat satu album atau satu flashdisk berisi soft file fotonya, tanpa print bingkai, dll. Sudah banyak juga yang 'islami', contohnya yang mau melayani foto saat acara dan post-wedding saja. Jadi, jangan khawatir! Yang punya kenalan fotografer juga siapa tahu bisa dimudahkan, hehe. 

DEKORASI
Buat dekorasi yang penting, kami sepakat hanya menyewa tenda dan panggung pelaminan. Dekorasi katering sudah dari sananya, sementara detail lain membuat sendiri. Di Indonesia, menyewa tempat terbuka yang gratis/terjangkau seperti taman rasanya belum ada, ya. Padahal kalau bisa menggelar di taman publik atau taman nasional seperti yang terjadi di luar negeri, budget di dekorasi bisa ditekan karena sudah ada pemandangan yang bagus :D

Kalau katering, gedung, dokumentasi, dan dekorasi utama sudah, baru deh menentukan apa saja yang di-DIY. Buku tamu, hiasan dinding, photobooth, aksesoris, baju, suvenir... the options are endless!

EVALUASI

Fast forward ke pascapernikahan digelar, dekorasi dilepas dari gedung, katering packing, dan semua orang kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Alhamdulillah semuanya lancar. Namun... apa ada yang tertinggal? Tentunya. Ada saja rencana yang saat hari-H tidak dilaksanakan, atau yang sengaja dihapus, atau yang terlupa.

Karena kita bahas DIY di sini, jadi saya ceritakan yang tidak berhasil di-DIY saja, ya. Namun sebetulnya tanpa itu pun acara tetap berlangsung, kok. Cuma saya teringat sebelumnya betapa 'ambisius'nya saya untuk membuat atau merencanakan DIY itu, haha. Ada beberapa yang ingiiiin sekali saya buat sendiri, tapi akhirnya jadi beli atau tidak dilakukan, yaitu:

- Aksesoris (flower crown dan boutonniere). Pengin banget rasanya bikin sendiri, tapi takdir berkata lain karena baru bisa bikin-bikinnya setelah nikah ^^" tapi alhamdulillah setelah kepo di Instagram, akhirnya menemukan pengrajin yang cocok dengan aksesoris yang saya mau dan ternyata tinggalnya dekat dengan rumah! Mbaknya baru saja pindah dan ketika saya ke sana rasanya seperti menemukan harta terpendam: supplies-nya banyak bangeeet. Jadilah di sana sekalian pilih bunga dan warnanya, juga beli aksesoris lain seperti headpiece (yang akhirnya dipakai adik saya) dan buket calla lily.

-  Makeup. Dari awal ingin bisa makeup sendiri di hari nikahan, karena selain menekan budget, juga bisa sesuai selera (I want bold lipstick for my wedding!). Namun kalau dilihat lagi saya bersyukur bisa bertemu MUA serbabisa dengan harga yang dinego dan tetap terlihat wedding-nya. Emak saya yang mencarikan MUA-nya, yang ternyata juga ibu RW (masih muda, loh!). Wedding veil, tiara, bros, sampai dalaman kerudung juga dipinjamkan. Dan sekarang mungkin saya akan menyesal kalau jadi pakai lipstik bold warna plum di hari nikah... haha.

- Wedding program. Kalau lihat-lihat di situs wedding luar negeri, mereka biasanya punya acara atau games atau pojok lucu-lucuan yang DIY-able banget, seperti wedding wishes buat pengantin, coloring page buat anak-anak, atau stiker lucu-lucu. Sebetulnya saya sendiri sudah bikin template buat coloring page karena akan mengundang anak murid, tapi ketika mendekati hari-H malah terlupakan. Alhamdulillah ada bunga-bunga kertas yang bisa diambil, dan benar saja--ketika acara selesai, bunga-bunga itu sudah habis diambil anak-anak, haha.
Coloring page yang nggak jadi dicetak, drawn by yours truly

LAIN-LAIN

Demi menghemat pengeluaran, selain DIY, ada pula yang di-tone down seperti musik. Kami tidak memakai live music karena 1) tempatnya tidak cukup, 2) tidak bisa menemukan wedding band yang memainkan lagu-lagu kesukaan saya, haha. Belajar dari salah satu teman yang juga budget wedding, mereka menggunakan playlist MP3 biasa yang diputar lewat sound system. Jadilah All Time Low, Tonight Alive, Yellowcard, dan Mae mengalun di pernikahan kami :D saya pilih versi akustiknya agar sesuai dengan mood nikahan. Oh ya, untuk musik saya dibebaskan memilih oleh suami, asal satu pilihan dia juga masuk, yaitu Careless Whisper-nya WHAM!. Berhubung arti lagunya malah patah hati, akhirnya saya hapus (maaf ya bapake, hehe).

Ngomongin musik dan Careless Whisper, ada yang lucu--salah satu murid saya janji mau memutarkan Careless Whisper di nikahan kami dan ya, dia mengeluarkan ponselnya dan mulai memutar Careless Whisper di depan semua orang -_- (perihal bagaimana dia bisa tahu lagu itu, saya kurang tahu. Mungkin dari orangtuanya yang senang film Deadpool).

Satu lagi; bukan yang bisa/tidak bisa di-DIY atau yang diminimalisasi, tapi yang berbeda dari kebiasaan di nikahan. Pelaminan kami urutannya bukan orangtua-pengantin-orangtua, tapi pengantin-orangtua-orangtua. Ya, kami menyapa tamu lebih dulu dan arrangement ini harus sampai dijelaskan oleh MC-nya ^^" Jadi kami yang repot menyambut tamu dan berdiri sementara kedua orangtua kami mengobrol seolah di lounge, haha. Kami sih, tidak keberatan.

Jadi, begitulah pernikahan kami satu tahun yang lalu (nggak kerasa, ya...). Lagi-lagi, semuanya tergantung pengantin dan keluarganya, seleranya seperti apa, apa saja yang penting untuk mereka, dan itu berpengaruh ke sektor mana mereka harus lebih mengeluarkan uang dan mana yang bisa dihemat. Teman saya lebih memilih mengadakan pernikahan di hotel yang sudah fixed harganya dan paketan, ada juga yang di rumah dan menyewa panggung. Namun ingat, apa pun yang dipilih, tetap ada konsekuensinya, misalnya jumlah tamunya harus terbatas, atau disediakan jalan yang aman dari tempat parkir ke gedung, atau dekorasi yang seperlunya. Asalkan kita bisa menerimanya dan menikmati momen itu, maka semuanya akan baik-baik saja :)

Selamat berunding, berencana, dan ber-DIY, ya! Semoga pernikahannya lancar dan diberkahi <3 At the end of the day, it's about you and your beloved ones. Kalau ada orang lain yang 'nyinyir' kenapa ngundangnya sedikit, atau nggak ada zuppa soup-nya, atau kok nggak pakai adat, biarkan saja. Suami setuju, keluarga inti setuju, sisanya hanya bisa kita minta untuk nikmati saja. Ya, nggak?

Tuesday, December 26, 2017

DIY Easy Flower Crown


Tak terasa sudah mau akhir tahun saja, ya! Menyeling seri DIY Wedding, saya ingin berbagi cara membuat headpiece berupa mahkota bunga yang mudah, cepat, dan tetap bisa dipakai di acara seperti pernikahan maupun untuk sesi foto pre-wedding. Inilah yang tidak kesampaian di pernikahan saya kemarin, yaitu mengenakan flower crown buatan sendiri. Untuk itu, saya coba buat dari bahan silk flower, yaitu bunga artifisial yang lebih real touch dibanding foam flower. Flower crown ini juga cocok untuk para bridesmaid karena desainnya yang simpel, tapi melengkapi penampilan.

Kebetulan juga, berhubung Pantone sudah merilis Color of the Year untuk 2018 yaitu Ultra Violet, saya membuat flower crown ini bernuansa ungu muda berbias pink dan blush yang cocok dipakai bersama dengan warna ungu gelap seperti Ultra Violet (psst... biasanya COTY Pantone ada hubungannya dengan tren wedding tahun itu!). Langsung saja, inilah tutorial sederhananya.

Alat dan bahan:


6 (enam) buah silk flower bertangkai (saya beli di toko online), bagi menjadi dua warna yang serasi
7 (tujuh) buah mutiara bertangkai (beli online juga, cari di toko yang turut menjual silk flower/foam flower)
1 (satu) rangka bando (bisa dibeli di toko aksesoris)
Pita chiffon warna putih gading secukupnya
Lem tembak

Cara membuat:


A. Potong pita chiffon secukupnya, lalu lilitkan pada bando dengan rapi hingga semua bagiannya tertutupi. Amankan ujung-ujungnya dengan lem tembak. Ini akan menjadi dasar dari flower crown.


B. Mulailah merangkai bunganya. Tempatkan mutiara di tengah-tengah bando, lilit tangkainya dengan rapi hingga kuat dan aman seperti di foto. Mutiara ini akan jadi patokan pertama dalam merangkai bunga selanjutnya, Nantinya, mutiara lain akan jadi pembatas di antara bunga-bunganya, sekaligus mengisi celah yang akan tampak.


C. Selanjutnya, ambil bunga warna gelap lalu pasangkan di sebelah mutiara tadi. Pasangkan yang rapat juga agar tidak lepas, dan jangan lupa ujung kawat tangkainya dirapikan agar tidak menusuk ketika dipakai. Di sebelah satunya, pasangkan bunga warna terang. Setelah itu, pasang lagi mutiaranya di sisi tiap bunga, dan begitu seterusnya secara berselang-seling. Bisa dilihat di foto bahwa mutiaranya akan mengisi celah yang terlihat di antara dua bunga, sehingga tidak 'kosong' dan bunga tampak menggerumbul penuh. Ketika semua bunganya sudah terangkai rapi, itu artinya flower crown selesai dibuat.

Dan... inilah hasilnya.

Saya coba pakai dengan kerudung warna ungu yang mendekati Ultra Violet, ternyata cocok juga, ya? Hehe. Warnanya jadi saling melengkapi dan kesan lembutnya tetap ada (sekalian ber-makeup biar kelihatan lebih 'wedding')

Semoga tutorial DIY kali ini bermanfaat, ya! Tidak hanya untuk yang merencanakan wedding, yang ingin foto-foto cantik tapi terjangkau atau sekadar mengisi liburan akhir tahun ini pun boleh banget mencoba DIY ini! Apalagi tutorial ini juga mudah diikuti anak-anak juga, dan mereka pasti senang bisa membuat aksesoris sendiri dengan hasil yang seperti beli di toko :D

Seri DIY Wedding akan berlanjut ke pengalaman saya menyiapkan apa yang bisa di-DIY, apa yang harus memakai jasa vendor, dan opsi jika ingin DIY atau tidak berikut tipnya. Oh ya, jika ada saran untuk tutorial selanjutnya, apa yang kira-kira ingin di-DIY terutama menyangkut pernak-pernik wedding, silakan layangkan di kolom komentar di bawah, ya :)

Terima kasih sudah mengikuti DIY dan blog ini, sampai jumpa di postingan dan tutorial selanjutnya! Sebagian besar masih tentang wedding, tapi akan ditambah dengan tutorial lain yang 'kekinian', kok ;) Just stay tuned!

Wednesday, September 6, 2017

My DIY Wedding Part 1: Photo Gallery

all photos are private properties, captured by Posko Studio 86
Waktu kecil, saya pernah sempat tertarik dengan pernikahan a la Disney Princess. Gaun panjang, sparkle, ballroom mewah, pangeran. Setelah akhirnya melewati fase itu, saya jadi punya satu cita-cita jika kelak saya menikah: saya ingin pernikahan tanpa adat, hanya syariat.

Konsep yang kurang familier, tentu, apalagi jika memiliki keluarga besar seperti saya dan suami. Alhamdulillah, semuanya lancar, dan kini kami sudah memasuki bulan ke-4 (baru saja monthversary. Is there such a thing? Haha). Lantas, konsep apa yang pas dengan yang saya inginkan? Setelah riset kecil-kecilan, saya dan keluarga akhirnya yakin menggunakan DIY pada beberapa bagian, meski akhirnya tidak jadi bertema rustic atau vintage dan lebih menjurus ke whimsical. Tetapi, intinya sama, yaitu menggunakan barang buatan sendiri yang pastinya memberikan sentuhan berbeda dan lebih personal.

Di sini, saya semata ingin menunjukkan hasil karya DIY-nya sebagai bentuk apresiasi pada mereka yang telah membantu pelaksanaan pernikahan kami, yang membuat acara itu terasa sakral dan privat meski on-budget. Ada yang betul-betul sesuai dengan rencana awal, ada juga yang kejutan karena tiba-tiba datang di acara! Tentu saja aspek yang di-DIY-kan dalam wedding tidak mesti seperti ini, tergantung keperluan dan selera pengantinnya. Kebetulan, selera pengantinnya seperti ini, hehe. Semoga saja jika selera kita sama, postingan ini bisa membantu menginspirasi.

DIY #1 GUEST BOARD
Guest board dan wedding sign adalah DIY yang direncanakan dan dibuat sejak awal, bahkan bisa dibilang kali pertama, jadi prosesnya kurang lebih hampir setahun. Saya memang ingin tempat tanda tangan yang paperless dan bisa jadi kenang-kenangan nantinya. Saya pikir, bapak saya akan membuat yang lebih kecil dari ini, tidak tahunya cukup besar juga, ya. Ini adalah hasil karya bapak dan dua adik laki-laki saya, mulai dari pemilihan warna cat, font, hingga menghias bagian pinggirnya.

DIY #2 WEDDING SIGN
Ini juga hasil karya para lelaki di rumah. Saya suka sekali dengan hasilnya! Meski memang rencananya akan dihias lebih banyak bunga. Tetapi, melihat sign ini di depan gedung alih-alih janur cukup membuat saya merasa ini pernikahan saya dan suami, dan orang-orang terdekat kami bisa langsung tahu bahwa kami--setidaknya saya--menaruh kesukaan dan ciri khas di acara sendiri.

DIY #3 WEDDING DRESS
Bulik saya adalah tangan di balik gaun ini. Aslinya, gaun ini sangat sederhana, like, very simple. Hanya dress panjang berbahan satin dan chiffon yang dihias beberapa kristal. Tetapi, saya memang lebih suka gaun warna putih ketimbang yang berwarna-warni dan ramai. MUAnya, yang juga penata kerudung saya, menambahkan aksesoris yang membuat gaun simpel itu tak lagi begitu simpel. Ada tiara, veil panjang sampai batas kaki, dan bros. Saya juga tidak ingin baju berbeda untuk akad dan resepsi karena ribet, haha. Bisa dilihat bahwa bedanya hanya terletak pada bros, dalaman kerudung, dan headpiece. Di resepsi, saya memakai flower crown dan dalaman kerudung berwarna ungu.

DIY #4 DECORATION
Dan inilah DIY yang lebih memakan waktu ketimbang guest board atau wedding sign. Mengapa? Karena perintilannya banyak! Rasanya bunga yang sudah dibuat, sebanyak apa pun, tetap saja terasa kurang. Hingga akhirnya ketika H-1 datang, adik-adik lelaki (dan lelaki dari para sepupu juga) turut membantu menghias dan meletakkan dekorasi yang sudah dibuat pada tempat-tempat strategis sehingga terasa penuh. Alhamdulillah, kerja keras itu membuahkan hasil. Meski tidak meluangkan ruang untuk photobooth, ternyata banyak tamu undangan yang berfoto dengan dekorasi DIY ini. Terlebih setelah mereka tahu bahwa bapak sayalah yang membuat sebagian besarnya.

Oh ya, karena dekorasi DIY juga, yang tadinya akad dilaksanakan di pelaminan di luar gedung, jadi diminta penghulu untuk dipindah ke dalam karena katanya latarnya bagus ^^"

DIY #5 WEDDING FAVOR
Jadi, cerita di balik suvenir ini adalah saya tadinya mau bikin pembatas buku DIY dengan paper clip kecil. Tetapi, Emak dan Bapak bilang lebih baik clip yang besar saja, dan hiasannya adalah rajutan karya Emak yang sempat iseng-iseng dibuat. Sebetulnya tak hanya pembatas buku ini, tapi juga ada gelang yang desainnya beda satu sama lainnya, bros rajut, sampai gantungan kunci rajut. Semuanya dibuat oleh Emak selama setahun hingga jumlahnya 300+, kecuali bros rajut yang pemberian dari Ua saya. Sayangnya, gelangnya tidak ikut difoto, padahal itu wedding favor favorit saya.

 DIY #6 WEDDING STEAMED CUPCAKE
Nah, yang satu ini kejutan! Saya sama sekali tidak mencantumkan kue dalam rencana, bahkan sampai hari-H. Ternyata, pagi-pagi, bulik-bulik saya mengantarkan ini. Ini kue kukus dari siapa, ya? Memang, dulu saya pernah bilang ke adik kalau saya lebih suka cupcake yang ditumpuk menyerupai kue bertingkat ketimbang kue yang bundar (gara-gara baca manga 'Delicious!', ada yang ingat?). Sudah begitu, warnanya ombre! Selesai acara, baru saya tahu jawabannya. Sepupu saya yang juga baker, namanya Mbak Nanda, memang sengaja membuat kue kukus bertingkat itu sebagai kado kejutan. Biasanya kue pengantin itu kue bolu, yang ini justru kue mangkuk kukus. Senang banget rasanya. Terima kasih ya, Mbak x)

Satu lagi yang juga DIY tapi tidak ditampilkan (tapi bisa dilihat sekilas di sini): undangan. Mulai dari desain sampai printing, semuanya sendiri! Saya mendesain keseluruhannya, tapi adik saya ikut me-layout dan mendesain logo huruf I dan R-nya alias monogram (karena saya tidak mau pakai cursive). Dia juga yang menerjemahkan undangan berbahasa Inggris saya ke bahasa Indonesia. Mengapa bahasa Inggris? Simpel dan kata-katanya efektif. Namun, saya hanya memberikan itu pada beberapa orang saja, sisanya tetap menggunakan undangan berbahasa Indonesia yang panjang, hehe.
Monogram yang didesain adik saya. Sayangnya waktu itu belum kepikiran buat taruh monogram ini di stationery dan dekor lainnya, jadi cuma ada di undangannya.
My DIY Wedding Part 1 dicukupkan sampai sini dulu, ya. Di Part 2 nanti, saya mau bercerita proses DIY itu sendiri, apa saja yang kira-kira bisa di-DIY, dan sedikit tip agar DIY kita bertahan sampai waktunya tiba dan berhasil memeriahkan suasana (?) ya, pokoknya sukses lah, hehe. Adakah dari kalian yang berencana menikah dengan DIY juga? Atau justru sudah menikah dengan DIY dan killed it? Boleh berbagi di komentar, ya! Sampai bertemu lagi :)

Tuesday, June 6, 2017

DIY Custom Invitation Envelope


It's been a hella year! Wow! Nggak nyangka saya meninggalkan blog ini selama itu (bukannya merasa bersalah, ya... maaf, deh *nyengir*). Tetapi kali ini ada alasan kuat dan jelasnya mengapa saya bisa mengambil waktu yang cukup lama untuk pause. Petunjuk: ada hubungannya dengan postingan sebelumnya DAN postingan ini.

Yap, wedding.

Alhamdulillah, saya sudah menikah tanggal 6 Mei lalu. Dari awal, saya memang ingin pernikahan berkonsep DIY dan syukurnya bisa terwujud. Rencananya memang dari tahun lalu saya ingin mengisi postingan DIY selanjutnya dengan tema pernikahan. Apa daya, ternyata baru bisa terwujud sekarang. Satu kuncinya untuk DIY wedding adalah: persiapkan jauh hari! Dan ya, persiapan pasti memakan waktu dan kesempatan update blog lagi.

Untuk postingan perdana tema DIY wedding di Kembang Gula, saya pilih yang paling sederhana dulu: amplop. Saya memang mengerjakan sebagian besar bidang stationery karena bisa 'dipindah-pindah' (saya tinggal di Bandung sementara rumah orangtua di Cimahi) seperti desain undangan, desain wedding sign, dan desain lain. Alhamdulillah (lagi), saya punya keluarga super hebat yang mendukung ide DIY saya yang sebetulnya merepotkan ini ^^" Kapan-kapan saya akan tunjukkan hasil karya Bapak, adik, Emak, dan Bulik saya di sini, ya :D

Sekarang, kita langsung masuk saja ke cara membuatnya, ya! Sebenarnya prinsipnya cukup mudah jika kita sudah tahu ukuran amplopnya berapa. Bahan-bahannya pun gampang ditemukan dan semuanya familier. Dan yang penting, ada kepuasan ketika membuat dan sudah jadi karena kita bisa memberikan hasil kerajinan tangan kita kepada undangan yang kita inginkan hadir di acara terbesar dalam hidup kita :')

(Oh ya, sebetulnya saya hanya buat sedikit amplop, tidak untuk semua undangan. Undangan yang lain saya sebarkan dengan dibungkus plastik pembungkus atau e-invitation)

DIY WEDDING STATIONERY #1: INVITATION ENVELOPE


Alat dan bahan:

1. Kertas samson (seperti kertas amplop coklat, dijual per gulung. Saya butuh yang besar karena undangan saya berukuran A5)
2. Gunting kertas
3. Lem kertas (saya pakai Povina tapi ternyata bekasnya lama hilang. Bisa diganti Dukol)
4. Pensil + penghapus
5. Pita kain dan alas toples untuk hiasan

Cara membuat:


1. Gambar pola berbentuk hati di kertas samson. Karena undangan saya berukuran A5, saya membuat bagian terlebarnya sepanjang 37 cm, bagian puncak hati ke bawah 31 cm, dan jarak antar puncak hati sekitar 11 cm. Ini bukan ukuran pasti, jadi kamu bisa menyesuaikannya sendiri. Kamu pun bisa membuat amplop yang jauh lebih kecil dari ini.

2. Gunting sesuai pola. Kalau saya sedikit dilebihkan dan mengguntingnya tidak dengan cara dilipat dua, karena bagi saya hasilnya justru malah lebih tidak simetris.


3. Beginilah penampakan pola hati yang sudah digunting. Cukup besar, ya?


4. Selanjutnya adalah membuat pola hati tadi menjadi amplop berbentuk kotak. Letakkan kartu undangan di atas kertas samson dan pastikan ujung undangan berbatasan dengan kertas samson di bagian segitiganya (bagian bawah dan tajam dari bentuk hati). Jadi, kita posisikan si kertas hati itu terbalik. Setelahnya, lipat kedua sisi kertas berbentuk hati itu.

5. Lipat kertas ke atas. Ini juga sampai berbatasan alias 'mentok' dengan si kartu undangan.

6. Ratakan dan tajamkan lipatannya hingga membentuk bekas lipatan yang cukup jelas.

7. Dan beginilah tampak samping dari kertas yang sudah dilipat ini.


8. Kalau sudah jadi seperti ini, berarti kita sudah punya patokan untuk amplopnya!


9. Karena tadi sudah membuat lipatan yang jelas, maka akan mudah menempelkannya. Beri lem pada bagian pinggir dan tengah dari lipatan samping kiri (tapi tidak terlalu banyak), kemudian lipat dan tempelkan.

10. Lakukan hal yang sama untuk bagian samping kanan.

11. Beri lem pada bagian atas dari samping kiri dan kanan. Lemnya harus sampai ujung agar menempel semua. Lipat bagian lipatan terakhir ke arah atas, tempelkan.


12. Terakhir, bagian menghias. Di sini saya pakai pita kain yang lebih mudah diaplikasikan, dan alas toples. Tahu alas putih berenda di dasar toples kue lebaran? Ya, saya pakai itu. Gunting menjadi empat bagian, kemudian tempel di sudut kanan atas amplop.

Selesai! Tinggal menunggu lemnya kering dan amplop buatanmu sudah bisa digunakan :)


Amplop undangan ini cocok ditulis dengan gaya hand lettering di bagian To/From-nya, dan bisa dipakai untuk berbagai tema atau konsep pernikahan. Sayangnya, saya tak sempat memotret tulisan tangannya karena sudah terlanjur disebar duluan ^^"

Yang terbaik dari amplop undangan ini, selain dibuat dari bentuk hati (because it's for weddings!) adalah kita bisa menghiasnya sesuai dengan tema. Karena saya memakai dominan ungu di undangannya, jadi saya juga pakai pita berwarna ungu. Agar tidak terlalu polos, saya juga menambahkan aksen dari alas toples di bagian lidah amplop :D


Semoga instruksi di atas cukup jelas, ya ^^" dan saya harap bisa bermanfaat serta dinikmati. Tentu saja, amplop ini tidak terbatas hanya untuk undangan pernikahan. Kamu juga bisa buat untuk acara dan kesempatan istimewa lain dengan hiasan yang lebih pas. Atau, kalau lagi iseng di akhir pekan, bisa ajak saudara atau keponakan untuk bikin-bikin produktif ;)

Sekian DIY tutorial ini, setelah sekian lama. Senang rasanya bisa kembali ke sini. Semoga kamu yang juga kembali ke sini atau baru kali pertama berkunjung semakin betah, ya :) Insya Allah saya akan update lagi dengan DIY wedding stuff yang lain. Oh, dan selamat menunaikan ibadah di bulan Ramadan bagi yang menjalankan! 'Till next post!